Sejarah Perjudian di Indonesia: Pro, Kontra, dan Fakta Tersembunyi

Antara Tradisi, Larangan, dan Kenyataan di Lapangan

Perjudian di Indonesia bukan cerita baru. Jauh sebelum negara ini merdeka, aktivitas taruhan sudah mengakar dalam berbagai lapisan masyarakat — dari kalangan bangsawan Jawa yang bermain kartu di pendopo, hingga buruh pelabuhan yang bertaruh dadu di sudut pasar. Memahami sejarahnya secara jujur berarti melihat dua sisi yang sering diabaikan: mengapa perjudian bertahan begitu lama, dan mengapa larangannya pun tak pernah benar-benar tuntas.


Pro: Argumen di Balik Eksistensi Panjang Perjudian

Akar Budaya yang Sulit Dicabut

Sebelum kolonialisme Belanda mengkonsolidasikan kekuasaan di Nusantara, bentuk-bentuk taruhan sudah ada dalam konteks sosial dan ritual. Sabung ayam, misalnya, bukan sekadar hiburan — ia bagian dari upacara adat di Bali dan beberapa daerah Sulawesi. Taruhan di sini berfungsi sebagai perekat sosial, bukan semata aktivitas ekonomi.

Ketika Belanda masuk, mereka justru melegalkan perjudian melalui sistem lisensi. Pemerintah kolonial menyadari potensi pajak yang besar. Rumah-rumah judi berlisensi, terutama yang dioperasikan komunitas Tionghoa, menjadi sumber pendapatan signifikan bagi kas VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda.

Masa Orde Baru: Negara Ikut Bermain

Ironi terbesar dalam sejarah perjudian Indonesia terjadi di era Soeharto. Di satu sisi, rezim Orde Baru memperkuat narasi moral anti-judi. Di sisi lain, negara justru menjadi operator. SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang aktif pada 1980-an hingga awal 1990-an pada dasarnya adalah lotere resmi pemerintah. Hasilnya masuk kas negara dan diklaim untuk pembangunan.

Program ini akhirnya dibubarkan pada 1993 menyusul tekanan keras dari kelompok Islam. Namun fakta bahwa negara pernah menjalankan perjudian berhadiah menjadi argumen kuat bagi mereka yang mempertanyakan konsistensi kebijakan.


Kontra: Mengapa Larangan Terus Diperketat

Dampak Sosial yang Nyata

Argumen penentang perjudian bukan sekadar soal agama. Data historis menunjukkan korelasi antara maraknya perjudian ilegal dan meningkatnya angka kemiskinan di komunitas tertentu. Pada masa pasca-kemerdekaan, kawasan-kawasan perjudian ilegal di Jakarta seperti di sekitar Glodok dan Mangga Besar dikenal sebagai sarang kejahatan terorganisir.

Pengesahan UU No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian menjadi tonggak resmi pelarangan, diperkuat oleh KUHP yang mengatur sanksi pidana. Argumentasinya jelas: perjudian merusak tatanan sosial, memicu kriminalitas, dan mengeksploitasi kelompok rentan.

Beban Moral dan Agama

Dengan mayoritas penduduk Muslim, tekanan agama terhadap perjudian sangat kuat. MUI secara konsisten mengeluarkan fatwa haram terhadap segala bentuk perjudian. Ini bukan sekadar opini — ini membentuk konsensus sosial yang sulit diabaikan oleh pembuat kebijakan mana pun.


Realita Modern: Larangan vs. Permintaan

Perjudian Online dan Tantangan Hukum Baru

Pelarangan di dunia fisik ternyata tidak otomatis menghapus permintaan. Ketika akses internet meluas di awal 2000-an, perjudian online berkembang pesat melalui server-server yang berlokasi di luar yurisdiksi Indonesia. Kominfo memblokir ribuan situs setiap tahun, namun VPN membuat blokir itu mudah ditembus.

Banyak pemain Indonesia mengakses platform internasional. Fenomena ini juga yang mendorong popularitas istilah-istilah tertentu dalam pencarian online — termasuk platform seperti slot88 yang kerap muncul sebagai referensi dalam diskusi komunitas online tentang perjudian digital di Indonesia.

Kasino Ilegal yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Satu-satunya kasino legal di Indonesia saat ini hanya ada di Batam dan Bintan dalam format terbatas untuk turis asing. Namun kasino ilegal tersebar di berbagai kota besar. Razia rutin dilakukan, tapi operasi kembali berjalan dalam hitungan minggu. Ini menunjukkan bahwa penegakan hukum saja tidak cukup tanpa mengatasi akar permintaannya.


Membaca Sejarah Ini Secara Jujur

Sejarah perjudian di Indonesia adalah cermin dari ketegangan yang belum selesai: antara nilai moral yang dipegang mayoritas, warisan kebijakan yang kontradiktif, dan kenyataan bahwa permintaan terhadap aktivitas ini tidak pernah hilang hanya karena dilarang.

Bukan berarti legalisasi adalah jawaban — argumen kontranya cukup kuat. Tapi menyederhanakan sejarahnya hanya sebagai kisah “pelarangan yang baik melawan perjudian yang jahat” juga tidak akurat. Ada kepentingan ekonomi, dinamika kekuasaan, dan perubahan sosial yang membentuk lanskap ini selama berabad-abad.

Yang pasti, debat ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.