Sejarah Disleksia Anak: Dari Stigma ke Pemahaman Ilmiah
Sejarah Disleksia Anak: Dari Stigma ke Pemahaman Ilmiah
Lebih dari seabad lalu, seorang anak yang kesulitan membaca dianggap malas, bodoh, atau bahkan memiliki kelainan jiwa. Stigma itu bukan sekadar kata-kata — ia menghancurkan kepercayaan diri jutaan anak di seluruh dunia, termasuk mereka yang kelak dikenal sebagai ilmuwan dan seniman besar. Sejarah disleksia anak adalah perjalanan panjang dari kesalahpahaman menuju pengakuan ilmiah yang mengubah cara dunia memandang kesulitan belajar.
Catatan pertama yang mendekati deskripsi disleksia muncul pada 1877, ketika ahli saraf Jerman, Adolf Kussmaul, menggambarkan kondisi seseorang dewasa yang tidak mampu membaca meski penglihatannya normal. Ia menyebutnya “word blindness” atau kebutaan kata. Istilah ini kemudian menjadi titik awal perdebatan panjang di dunia medis tentang apa sebenarnya yang terjadi di dalam otak anak-anak tertentu.
Menariknya, perhatian terhadap kasus pada anak baru benar-benar mencuat pada 1896, ketika dokter asal Inggris, W. Pringle Morgan, mendokumentasikan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun bernama Percy. Anak ini cerdas secara lisan, tetapi nyaris tidak bisa membaca sama sekali. Laporan Morgan di jurnal British Medical Journal itu menjadi tonggak sejarah pertama yang secara resmi mengakui bahwa kesulitan membaca pada anak bisa bersifat neurologis, bukan sekadar kemalasan.
Perjalanan Panjang Sejarah Disleksia dari Stigma ke Sains
Awal Abad 20: Ketika Label “Bodoh” Masih Menguasai Kelas
Memasuki awal 1900-an, dokter mata Samuel Orton mulai meneliti anak-anak dengan kesulitan membaca secara lebih sistematis. Ia menciptakan istilah strephosymbolia — yang berarti simbol yang terbalik — untuk menggambarkan bagaimana anak-anak ini seolah membalik huruf dan kata saat membaca. Teorinya belum sepenuhnya tepat secara neurologi modern, tetapi pendekatannya revolusioner karena ia menolak menyalahkan anak.
Orton juga bekerja sama dengan pendidik Anna Gillingham untuk mengembangkan metode pengajaran khusus yang kini dikenal sebagai metode Orton-Gillingham. Metode ini masih digunakan secara luas hingga 2026 dan menjadi fondasi banyak program intervensi disleksia di seluruh dunia. Tidak sedikit orang tua dan guru yang baru menyadari betapa tuanya pendekatan ini — padahal efektivitasnya sudah teruji hampir satu abad.
Pertengahan Abad 20: Istilah “Disleksia” Mulai Dipakai
Kata “disleksia” sendiri mulai populer di kalangan medis pada dekade 1960-an. Psikiater dan peneliti mulai memisahkan kondisi ini dari gangguan intelektual secara lebih tegas. Pada 1968, World Federation of Neurology secara resmi mendefinisikan disleksia sebagai gangguan dalam belajar membaca meski anak mendapat instruksi konvensional, memiliki kecerdasan yang cukup, dan peluang sosiokultural yang memadai.
Definisi ini penting karena untuk pertama kalinya dunia ilmu pengetahuan secara kolektif mengakui bahwa disleksia bukan soal kecerdasan. Sayangnya, perubahan definisi di kertas tidak otomatis mengubah perlakuan di ruang kelas. Banyak anak di era ini masih duduk di pojok kelas, dilabeli “lambat”, dan tidak mendapat dukungan yang seharusnya.
Revolusi Pemahaman Ilmiah di Akhir Abad 20 hingga Kini
Neuroimaging Mengubah Segalanya
Terobosan terbesar dalam pemahaman disleksia terjadi ketika teknologi brain imaging seperti fMRI mulai tersedia pada 1990-an. Untuk pertama kali dalam sejarah, ilmuwan bisa benar-benar melihat perbedaan aktivitas otak antara pembaca disleksia dan non-disleksia secara langsung. Penelitian Sally Shaywitz dari Yale University menjadi salah satu yang paling berpengaruh — membuktikan bahwa otak anak disleksia memproses bahasa secara berbeda, bukan lebih buruk.
Era Modern: Dari Diagnosis ke Dukungan Berbasis Bukti
Memasuki abad 21 dan semakin matang di tahun 2020-an, pendekatan terhadap disleksia anak bergeser dari sekadar mendiagnosis menjadi merancang dukungan yang tepat sasaran. Banyak negara mulai memasukkan skrining disleksia dalam kurikulum pendidikan awal. Di Indonesia sendiri, kesadaran terhadap disleksia anak tumbuh signifikan meski perjalanannya masih panjang.
Kesimpulan
Sejarah disleksia anak adalah cermin dari bagaimana ilmu pengetahuan dan empati manusia bisa berkembang bersama — meski prosesnya tidak pernah instan. Dari label “word blindness” di akhir abad 19 hingga pemahaman neurologis berbasis data di 2026, perjalanan ini mengingatkan kita bahwa stigma paling berbahaya adalah yang bersembunyi di balik ketidaktahuan.
Nah, memahami sejarah ini bukan hanya urusan akademis. Ini soal bagaimana kita memperlakukan anak-anak di sekitar kita yang mungkin sedang berjuang dengan cara belajar yang berbeda. Semakin dalam kita memahami akar sejarah disleksia, semakin bijak pula respons yang bisa kita berikan kepada generasi yang tumbuh hari ini.
FAQ
Kapan disleksia pertama kali diakui secara medis?
Pengakuan medis pertama terhadap kondisi yang menyerupai disleksia terjadi pada 1896 melalui laporan dokter W. Pringle Morgan tentang seorang anak yang kesulitan membaca. Sebelumnya, kondisi serupa pada orang dewasa sudah dicatat oleh Adolf Kussmaul sejak 1877 dengan istilah “word blindness”.
Apa perbedaan pemahaman disleksia dulu dan sekarang?
Di masa lalu, disleksia sering dianggap sebagai tanda kebodohan atau kemalasan anak. Kini, berkat penelitian neuroimaging, disleksia dipahami sebagai perbedaan cara otak memproses bahasa — kondisi neurologis yang tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang.
Apakah metode penanganan disleksia sudah ada sejak lama?
Metode Orton-Gillingham yang dikembangkan sejak 1930-an adalah salah satu pendekatan tertua yang masih relevan hingga sekarang. Metode ini berbasis multisensori dan telah menjadi dasar dari banyak program intervensi disleksia modern di berbagai negara.


