Sejarah Desain Rumah Type 36 dari Masa ke Masa
Sejarah Desain Rumah Type 36 dari Masa ke Masa
Rumah type 36 bukan sekadar hunian kecil — ini adalah saksi bisu perjalanan panjang kebijakan perumahan Indonesia. Sejak pertama kali dipopulerkan pada era 1970-an, desain rumah type 36 telah melewati berbagai transformasi yang mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, dan selera masyarakat Indonesia di setiap zamannya. Menariknya, rumah dengan luas bangunan 36 meter persegi ini justru menjadi salah satu tipe hunian paling bersejarah dan paling banyak dibangun sepanjang sejarah properti nasional.
Kalau kita telusuri arsip kebijakan perumahan nasional, nama Perumnas — Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional — selalu muncul sebagai aktor utama. Didirikan tahun 1974, Perumnas menjadi motor penggerak pembangunan rumah rakyat skala besar. Type 36 dipilih bukan tanpa alasan: luas ini dianggap cukup layak untuk keluarga kecil dengan biaya konstruksi yang terjangkau. Dari sinilah cerita panjang evolusi desain rumah type 36 benar-benar dimulai.
Banyak orang mengira rumah type 36 selalu tampil seragam dan membosankan. Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, setiap dekade menghadirkan karakter arsitektur yang berbeda — mulai dari denah polos era Orde Baru hingga fasad modern minimalis yang kita lihat di tahun 2026 ini.
Evolusi Desain Rumah Type 36 dari Dekade ke Dekade
Era 1970–1990: Fungsional dan Serba Sederhana
Pada periode ini, desain rumah type 36 benar-benar memprioritaskan fungsi di atas segalanya. Denah tipikal terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi yang disusun secara linier. Tidak ada ornamen berlebihan, tidak ada teras luas — yang ada hanya bangunan persegi dengan atap pelana sederhana.
Dinding bata plester, lantai teraso, dan kusen kayu jati menjadi “tanda tangan” rumah type 36 generasi pertama. Warna eksterior didominasi putih dan krem. Menariknya, konsep ini justru sangat efisien: setiap sentimeter persegi dimanfaatkan sebaik mungkin karena keterbatasan lahan dan anggaran.
Era 1990–2000: Pengaruh Tren Arsitektur Tropis
Memasuki tahun 1990-an, selera masyarakat mulai bergeser. Pengaruh arsitektur tropis yang saat itu sedang populer di Asia Tenggara mulai masuk ke desain rumah type 36. Atap berbentuk limasan dengan tritisan lebar mulai menggantikan atap pelana datar. Ventilasi silang — ciri khas arsitektur tropis — menjadi pertimbangan penting dalam tata letak jendela.
Pengembang swasta yang mulai marak di era ini punya peran besar. Mereka tidak hanya membangun, tapi juga mulai “menjual gaya hidup.” Jadilah rumah type 36 era 90-an sedikit lebih bervariasi tampilannya dibanding generasi sebelumnya, meski luas bangunannya tetap sama.
Perubahan Besar di Era 2000-an hingga 2026
Dekade 2000–2010: Minimalis Mulai Masuk
Gaya minimalis adalah revolusi terbesar dalam sejarah desain rumah type 36. Sekitar awal tahun 2000-an, tren ini merangsek masuk dari tren global dan langsung diadaptasi para arsitek lokal. Garis-garis bersih, bukaan yang lebih lebar, dan pengurangan ornamen menjadi ciri khas barunya.
Tidak sedikit yang kemudian merenovasi rumah type 36 lama mereka mengikuti tren ini. Teraso diganti keramik glossy, kusen kayu beralih ke aluminium, dan teras depan diperlebar untuk kesan modern. Perubahan ini bukan sekadar estetika — ini mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap hunian sebagai identitas diri.
Era 2010–2026: Smart, Hijau, dan Adaptif
Dua dekade terakhir membawa konsep yang jauh lebih kompleks ke ranah rumah type 36. Desain rumah ramah lingkungan mulai diterapkan: atap yang mengakomodasi panel surya, sistem ventilasi alami yang terkalkulasi, hingga penggunaan material daur ulang. Di tahun 2026, konsep compact living justru membuat rumah type 36 kembali relevan dan digemari generasi muda perkotaan.
Fleksibilitas denah juga menjadi tren dominan. Dinding geser, ruang multifungsi, dan konsep open plan antara dapur dan ruang keluarga mengubah wajah interior rumah type 36 secara dramatis. Luasnya memang tetap 36 meter persegi, tapi cara penggunaannya jauh lebih cerdas.
Kesimpulan
Sejarah desain rumah type 36 adalah cerminan nyata bagaimana masyarakat Indonesia beradaptasi dan berkembang. Dari bangunan fungsional polos tahun 1970-an, tipe rumah ini telah bertransformasi menjadi hunian modern yang mengakomodasi kebutuhan gaya hidup masa kini tanpa meninggalkan fungsi dasarnya sebagai rumah rakyat yang terjangkau.
Jadi, kalau hari ini Anda melihat sebuah rumah type 36 dengan fasad minimalis dan atap hijau — ingatlah bahwa ada perjalanan panjang lebih dari lima dekade di baliknya. Evolusi ini belum berhenti; desain rumah type 36 akan terus berubah mengikuti kebutuhan zaman, dan itu justru yang membuatnya tetap bertahan sebagai pilihan utama jutaan keluarga Indonesia.
FAQ
Kapan rumah type 36 pertama kali dibangun di Indonesia?
Rumah type 36 mulai dibangun secara masif pada pertengahan tahun 1970-an seiring berdirinya Perumnas tahun 1974. Program perumahan rakyat nasional menjadikan tipe ini sebagai standar hunian minimum yang layak bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.
Apa perbedaan desain rumah type 36 lama dan modern?
Rumah type 36 generasi lama mengutamakan fungsi dengan tampilan sederhana, dinding bata plester, dan atap pelana. Versi modern mengadopsi gaya minimalis, material kontemporer, serta denah yang lebih fleksibel dengan konsep open plan dan elemen ramah lingkungan.
Apakah rumah type 36 masih relevan di tahun 2026?
Sangat relevan. Di tengah mahalnya harga tanah perkotaan, konsep compact living justru membuat rumah type 36 kembali diminati, terutama oleh generasi muda yang mencari hunian efisien dengan desain modern di lokasi strategis.



