Pakar Bisnis Bocorkan Strategi Pricing Produk Terbukti Laris

Pakar Bisnis Bocorkan Strategi Pricing Produk Terbukti Laris

Sebuah survei dari Asosiasi Pengusaha Indonesia tahun 2026 mengungkap fakta mengejutkan: lebih dari 60% produk yang gagal di pasaran bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena strategi pricing yang salah. Artinya, harga yang Anda pasang bisa jadi penentu hidup matinya produk di pasar. Banyak pelaku usaha meremehkan hal ini sampai akhirnya produk bagus pun tidak laku.

Nah, para pakar bisnis di forum tahunan Indonesia Business Summit 2026 akhirnya membocorkan pendekatan penetapan harga yang selama ini dipakai brand-brand besar tapi jarang dibicarakan secara terbuka. Mereka sepakat bahwa pricing bukan sekadar soal hitung-hitungan modal plus margin. Ada faktor psikologi, persepsi nilai, dan positioning pasar yang bermain di baliknya.

Faktanya, konsumen tidak selalu membeli yang termurah. Mereka membeli yang terasa paling “masuk akal” untuk mereka. Inilah celah yang bisa dimanfaatkan siapa pun, dari pelaku UMKM hingga brand nasional, untuk mendorong penjualan secara signifikan.


Strategi Pricing Produk yang Dipakai Brand Laris di 2026

1. Anchor Pricing: Mainkan Persepsi Harga Pertama

Teknik anchor pricing bekerja dengan cara menempatkan harga referensi lebih tinggi di depan konsumen sebelum menampilkan harga asli. Coba bayangkan, Anda melihat harga coret Rp 250.000 lalu harga jual Rp 149.000 — otak langsung menangkap ini sebagai “penawaran bagus”.

Pakar strategi pemasaran Dinda Kusuma dari Jakarta Business School menyebut teknik ini masih sangat efektif di 2026, terutama di platform e-commerce. Kuncinya bukan berbohong soal harga, melainkan memberi konteks yang memudahkan konsumen membuat keputusan. Tanpa anchor, konsumen tidak punya tolok ukur — dan keputusan mereka pun menjadi lebih lambat.

2. Price Bundling: Naikkan Nilai Tanpa Terasa Mahal

Strategi penggabungan produk atau price bundling terbukti meningkatkan rata-rata nilai transaksi tanpa harus menurunkan harga satuan. Tidak sedikit brand lokal yang berhasil menggandakan omzet hanya dengan mengemas dua produk menjadi satu paket yang terasa “lebih hemat”.

Menariknya, riset perilaku konsumen Indonesia menunjukkan pembeli lebih mudah memutuskan beli saat pilihan dipersempit. Bundling secara psikologis mengurangi beban memilih dan sekaligus meningkatkan perceived value produk Anda.


Kesalahan Umum dalam Penetapan Harga yang Harus Dihindari

3. Terlalu Fokus pada Kompetitor, Bukan Nilai Produk

Banyak pemilik usaha terjebak dalam perang harga dengan kompetitor tanpa sadar bahwa mereka sedang menggerus margin sendiri. Harga yang terlalu mengikuti pesaing tanpa mempertimbangkan nilai unik produk justru menyampaikan pesan keliru kepada konsumen: bahwa produk Anda tidak punya keunggulan.

Jadi, sebelum menetapkan harga, identifikasi dulu apa yang membuat produk Anda berbeda. Apakah bahan bakunya premium? Apakah layanan purna jualnya lebih baik? Nilai-nilai ini harus tercermin dalam harga, bukan disembunyikan demi terlihat murah.

4. Mengabaikan Segmentasi Harga untuk Berbagai Kelompok Konsumen

Pakar bisnis menyoroti satu kesalahan yang sering diabaikan: tidak adanya variasi tier harga. Produk tanpa pilihan harga hanya bisa menjangkau satu segmen pasar. Sementara brand yang menyediakan versi basic, standard, dan premium mampu menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus.

Strategi tiered pricing ini bukan hanya soal memperluas pasar — ini juga soal membuat konsumen merasa punya kendali. Dan konsumen yang merasa punya pilihan, lebih mudah untuk membeli.


Kesimpulan

Strategi pricing produk yang tepat bukan lahir dari intuisi semata, melainkan dari pemahaman mendalam tentang psikologi konsumen, nilai produk, dan posisi di pasar. Apa yang dibocorkan para pakar bisnis di forum-forum bergengsi 2026 ini bukan rahasia baru — tapi banyak pelaku usaha yang belum menerapkannya secara konsisten.

Mulai dari anchor pricing, bundling, tiered pricing, hingga fokus pada nilai bukan harga kompetitor, semua strategi ini bisa diterapkan di bisnis skala kecil sekalipun. Yang paling penting adalah konsistensi dan keberanian untuk tidak sekadar ikut-ikutan harga pasar. Karena pada akhirnya, harga yang tepat adalah harga yang membuat konsumen merasa mereka mendapatkan lebih dari yang mereka bayarkan.


FAQ

Apa itu strategi pricing produk dan mengapa penting bagi bisnis?

Strategi pricing produk adalah pendekatan sistematis dalam menentukan harga jual berdasarkan nilai produk, segmen pasar, dan psikologi konsumen. Penetapan harga yang tepat langsung memengaruhi volume penjualan, margin keuntungan, dan persepsi merek di mata konsumen.

Bagaimana cara menentukan harga produk agar cepat laris?

Mulailah dengan memahami nilai unik produk Anda, lalu riset segmen konsumen yang dituju. Gunakan teknik seperti anchor pricing atau bundling untuk meningkatkan perceived value, dan pertimbangkan tiered pricing agar bisa menjangkau lebih banyak segmen pasar.

Apakah harga murah selalu membuat produk lebih laku?

Tidak selalu. Konsumen sering mengaitkan harga rendah dengan kualitas yang rendah pula. Produk dengan harga yang lebih tinggi namun dikomunikasikan dengan baik justru bisa lebih laku karena membangun kepercayaan dan persepsi nilai yang lebih kuat di benak pembeli.